Bukan Sekadar Weton, Begini Cara Menghitung Hari Naas Menurut Primbon Jawa

Gita Dwi N. • Dipublikasikan Jumat, 6 November 2026 | 19:10 WIB
Cara menghitung hari naas menurut Primbon Jawa berkaitan dengan weton, neptu, dan tujuh hari dalam tradisi Jawa.(Gemini AI)
Cara menghitung hari naas menurut Primbon Jawa berkaitan dengan weton, neptu, dan tujuh hari dalam tradisi Jawa.(Gemini AI)

RADAR PENATARAN – Cara menghitung hari naas menurut Primbon Jawa ternyata tidak hanya mengandalkan hari kelahiran seseorang. Dalam tradisi masyarakat Jawa, perhitungan tersebut juga melibatkan pasaran, neptu, serta aturan petungan yang diwariskan secara turun-temurun. Hasilnya dipercaya dapat menunjukkan hari yang sebaiknya dihindari ketika seseorang hendak melaksanakan kegiatan penting.

Kepercayaan mengenai hari naas masih dikenal di sejumlah wilayah Jawa. Sebagian masyarakat menggunakannya sebagai pertimbangan sebelum menikah, bepergian jauh, membangun rumah, pindah tempat tinggal, hingga memulai usaha.

Menariknya, setiap weton memiliki nilai neptu yang berbeda. Oleh karena itu, seseorang tidak bisa langsung menentukan hari naas hanya berdasarkan nama hari kelahirannya. Ada tahapan perhitungan yang perlu diketahui terlebih dahulu.

Baca Juga: Arti Weton Tibo Topo dalam Primbon Jawa, Pasangan dengan Neptu Ini Konon Penuh Cobaan

Mengenal Sistem Perhitungan Weton Jawa

Weton merupakan gabungan antara hari dalam kalender tujuh harian atau saptawara dengan lima hari pasaran Jawa atau pancawara.

Saptawara terdiri dari Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu. Sementara itu, pancawara terdiri dari Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.

Masing-masing hari dan pasaran mempunyai nilai angka yang disebut neptu. Nilai tersebut menjadi dasar dalam berbagai perhitungan tradisional yang terdapat dalam Primbon Jawa.

Berikut daftar neptu yang umum digunakan:

Neptu hari:

Neptu pasaran:

Sebagai contoh, seseorang yang lahir pada Rabu Kliwon memiliki neptu 15. Angka tersebut diperoleh dari penjumlahan neptu Rabu sebesar 7 dan Kliwon sebesar 8.

Baca Juga: Daftar Weton Jodoh Tibo Topo Menurut Primbon Jawa, Neptu 20, 28, dan 36 Punya Makna Ini

Cara Menghitung Hari Naas Menurut Primbon Jawa

Salah satu gambaran mengenai perhitungan hari naas dapat ditemukan dalam penelitian berjudul Penentuan Hari Baik Perjodohan dengan Primbon Jawa yang membahas tradisi masyarakat Desa Jejel, Kabupaten Lamongan.

Dalam penelitian tersebut, proses pencarian hari naas dilakukan dengan menggunakan tujuh media, biasanya berupa koin, sebagai penanda tujuh hari dalam satu pekan.

Berikut tahapan yang perlu dipahami:

1. Mengetahui hari dan pasaran kelahiran

Pertama, pastikan weton kelahiran sudah diketahui dengan benar. Informasi tersebut meliputi hari dan pasaran, misalnya Rabu Kliwon, Jumat Legi, atau Senin Pahing.

2. Menghitung jumlah neptu

Setelah mengetahui weton, jumlahkan angka hari dan pasarannya.

Contohnya, seseorang lahir pada Rabu Kliwon. Perhitungannya adalah:

Dengan demikian, neptu weton Rabu Kliwon adalah 15.

3. Menyiapkan tujuh penanda hari

Tahap berikutnya adalah menyiapkan tujuh koin atau benda lain yang digunakan sebagai simbol tujuh hari. Dalam praktik masyarakat yang diteliti, media tersebut membantu proses penghitungan hari naas.

4. Melakukan petungan sesuai aturan setempat

Selanjutnya, penghitungan dilakukan berdasarkan jumlah neptu dan urutan hari sesuai metode yang digunakan masyarakat setempat.

Dalam tahapan ini, urutan penanda hari menjadi bagian penting karena hasil perhitungan akan digunakan untuk menentukan hari yang dianggap kurang baik.

Perlu diketahui, penggunaan tujuh koin tersebut merupakan praktik dalam tradisi tertentu. Tidak semua daerah Jawa menerapkan tata cara yang sama sehingga hasilnya tidak bisa digeneralisasi sebagai satu rumus baku.

Mengapa Ada Hari yang Dianggap Naas?

Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, hari dan pasaran tidak hanya berfungsi sebagai penanda waktu. Keduanya juga memiliki nilai simbolis yang digunakan untuk membaca perhitungan kehidupan seseorang.

Tradisi tersebut dikenal dengan istilah petungan. Praktiknya berkembang dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari menentukan waktu pernikahan, mendirikan rumah, bepergian, hingga kegiatan pertanian.

Penelitian dalam jurnal Litera Universitas Negeri Yogyakarta mengenai klasifikasi petung Primbon Jawa menjelaskan bahwa perhitungan tradisional tersebut memiliki banyak kategori. Di antaranya petung salaki rabi untuk perjodohan, petung gawe omah untuk mendirikan rumah, petung lelungan untuk bepergian, serta petung nenandur untuk kegiatan bercocok tanam.

Hal ini menunjukkan bahwa sistem petungan Jawa tidak hanya berkaitan dengan hari naas, tetapi juga menjadi bagian dari cara masyarakat terdahulu mengatur waktu untuk berbagai keperluan.

Apakah Semua Orang Memiliki Hari Naas Berbeda?

Dalam praktik perhitungan tradisional, hasil petungan dapat berbeda karena setiap orang mempunyai weton dan neptu kelahiran masing-masing. Selain itu, metode yang digunakan juga dapat memengaruhi hasil akhirnya.

Penelitian mengenai naskah Primbon Jawa Timur yang diterbitkan dalam jurnal Santhet pada 2026 menjelaskan bahwa perhitungan hari baik dalam salah satu naskah primbon menggabungkan unsur weton, pancawara, dan perhitungan lainnya.

Kajian tersebut memperlihatkan bahwa perhitungan dalam primbon memiliki sistem yang lebih kompleks daripada sekadar menjumlahkan angka kelahiran.

Karena itu, masyarakat yang ingin mengetahui hari naas berdasarkan tradisi tertentu perlu memahami terlebih dahulu kitab atau pedoman yang digunakan. Menggabungkan beberapa rumus tanpa mengetahui aturan dasarnya justru dapat menghasilkan perhitungan yang keliru.

Pada akhirnya, tradisi menghitung hari naas merupakan bagian dari warisan budaya Jawa yang masih menarik untuk dipelajari. Perhitungan weton dan neptu dapat menjadi sarana mengenal sistem penanggalan leluhur, tetapi hasilnya tetap merupakan kepercayaan budaya dan bukan kepastian ilmiah mengenai datangnya kesialan.

 

Editor : Gita Dwi N.
Sumber : pinterest
Kalender Jawa Primbon Jawa Neptu Jawa Hari Naas Weton Rabu Kliwon