Cara Menghitung Hari Naas Menurut Primbon Jawa, Ternyata Tidak Bisa Sembarangan

Gita Dwi N. • Dipublikasikan Jumat, 6 November 2026 | 19:20 WIB
Cara menghitung hari naas menurut Primbon Jawa menggunakan neptu weton dan aturan petungan yang berbeda di setiap daerah.(Gemini AI)
Cara menghitung hari naas menurut Primbon Jawa menggunakan neptu weton dan aturan petungan yang berbeda di setiap daerah.(Gemini AI)

 

RADAR PENATARAN – Cara menghitung hari naas menurut Primbon Jawa masih menjadi salah satu tradisi yang menarik perhatian masyarakat. Dalam kepercayaan Jawa, hari tertentu dipercaya memiliki perhitungan dan makna tersendiri yang dapat dijadikan pertimbangan sebelum seseorang melakukan kegiatan penting.

Hari naas atau hari yang dianggap kurang baik biasanya dikaitkan dengan weton kelahiran seseorang. Weton merupakan gabungan antara tujuh hari dalam kalender umum atau saptawara dengan lima hari pasaran Jawa atau pancawara. Kombinasi keduanya kemudian menghasilkan perhitungan neptu yang digunakan dalam berbagai petungan Jawa.

Namun, menentukan hari naas ternyata tidak cukup hanya dengan mengetahui weton kelahiran. Ada beberapa jenis perhitungan yang digunakan sesuai kebutuhan, mulai dari menentukan waktu bepergian, mengadakan hajatan, membangun rumah, hingga memulai kegiatan tertentu.

Baca Juga: Hari Naas Menurut Primbon Jawa Bisa Berbeda Setiap Orang, Begini Cara Mengetahuinya

Mengenal Neptu dalam Perhitungan Primbon Jawa

Sebelum menghitung hari naas, masyarakat perlu mengenal istilah neptu. Neptu merupakan nilai angka yang melekat pada masing-masing hari dan pasaran dalam kalender Jawa.

Nilai neptu hari dalam sistem saptawara adalah sebagai berikut:

Sementara itu, nilai neptu untuk lima hari pasaran Jawa meliputi:

Kedua nilai tersebut dijumlahkan untuk mendapatkan neptu weton seseorang. Sebagai contoh, seseorang yang lahir pada Sabtu Kliwon memiliki neptu 17, karena nilai Sabtu adalah 9 dan Kliwon bernilai 8.

Begitu pula seseorang yang lahir pada Selasa Legi mempunyai neptu 8, hasil penjumlahan nilai Selasa sebesar 3 dan Legi sebesar 5.

Angka inilah yang kemudian digunakan dalam sejumlah metode petungan untuk menentukan hari yang dianggap baik maupun kurang baik.

Baca Juga: Arti Weton Tibo Topo dalam Primbon Jawa, Pasangan dengan Neptu Ini Konon Penuh Cobaan

Cara Menghitung Hari Naas dengan Menjumlahkan Neptu

Salah satu metode yang dikenal dalam tradisi petungan Jawa adalah menjumlahkan neptu weton kelahiran dengan neptu hari yang akan dipilih. Hasil penjumlahan tersebut selanjutnya digunakan untuk menentukan kategori hari berdasarkan aturan perhitungan yang dianut.

Dalam penelitian mengenai tradisi petungan dina di Desa Jabalsari, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, ditemukan metode yang dikenal dengan sebutan pasundari.

Pada metode tersebut, neptu weton seseorang dijumlahkan dengan neptu hari yang hendak dipilih. Hasilnya kemudian dibagi tiga. Apabila menyisakan angka 0 atau 2, hari tersebut dianggap sesuai, sedangkan sisa 1 dinilai kurang sesuai menurut aturan setempat.

Sebagai ilustrasi, seseorang dengan weton Sabtu Kliwon memiliki neptu 17. Jika ingin memilih hari dengan neptu Senin Legi sebesar 9, jumlah keduanya menjadi 26.

Angka 26 kemudian dibagi tiga dan menghasilkan sisa 2. Berdasarkan metode pasundari yang ditemukan dalam penelitian tersebut, hasil itu termasuk kategori hari yang dianggap sesuai.

Meski demikian, perhitungan tersebut merupakan contoh dari salah satu tradisi lokal. Tidak semua masyarakat Jawa menggunakan aturan pembagian tiga dengan ketentuan yang sama.

Mengapa Perhitungan Hari Naas Bisa Berbeda?

Perbedaan cara menghitung hari naas tidak terlepas dari banyaknya jenis petungan dalam tradisi Jawa. Setiap perhitungan memiliki tujuan dan aturan tersendiri sehingga hasilnya tidak selalu dapat digunakan untuk semua keperluan.

Penelitian mengenai klasifikasi dan makna Primbon Jawa yang tersimpan di repositori Universitas Gadjah Mada menjelaskan bahwa petungan mencakup berbagai aspek kehidupan. Di antaranya adalah petung salaki rabi untuk pernikahan, petung gawe omah untuk membangun rumah, petung lelungan untuk bepergian, petung boyongan untuk pindah rumah, serta petung nenandur untuk kegiatan bercocok tanam.

Artinya, perhitungan untuk menentukan hari keberangkatan belum tentu sama dengan perhitungan untuk menentukan waktu mendirikan rumah. Bahkan, dalam kegiatan membangun rumah, terdapat tradisi yang membedakan perhitungan saat meletakkan fondasi dan ketika memasang bagian atap.

Hal tersebut menunjukkan bahwa primbon bukan sekadar daftar hari baik dan hari buruk. Di dalamnya terdapat sistem pengetahuan tradisional yang menghubungkan kalender, angka, pengalaman masyarakat, serta kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun.

Peran Weton dan Tradisi Petungan di Masyarakat Jawa

Sampai sekarang, tradisi menghitung hari baik dan hari naas masih ditemukan di sejumlah daerah. Sebagian masyarakat memilih berkonsultasi dengan orang yang dianggap memahami perhitungan primbon atau dikenal sebagai juru petung maupun dongke.

Penelitian dari UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung mengenai eksistensi Primbon Jawa dan peran dongke di Desa Jabalsari menunjukkan bahwa tradisi petungan dina masih digunakan untuk berbagai keperluan masyarakat. Penggunaannya mencakup penentuan hari pernikahan, khitanan, mendirikan rumah, pindah rumah, hingga memulai kegiatan pertanian.

Keberadaan orang yang memahami perhitungan tersebut juga memperlihatkan bagaimana pengetahuan tradisional diwariskan melalui praktik sosial di lingkungan masyarakat.

Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola hidup, sebagian masyarakat masih mempertahankan tradisi tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap kebiasaan leluhur. Ada pula yang menjadikannya sebagai pertimbangan budaya sebelum mengambil keputusan penting.

Apakah Hari Naas Harus Selalu Dihindari?

Dalam memahami perhitungan hari naas, penting untuk membedakan antara kepercayaan budaya dan kepastian ilmiah. Primbon Jawa merupakan bagian dari warisan pengetahuan tradisional yang memiliki nilai sejarah dan sosial bagi masyarakat pendukungnya.

Perhitungan neptu dan weton tidak dapat dijadikan bukti ilmiah bahwa suatu hari pasti membawa kesialan atau keberuntungan. Karena itu, hasil perhitungan sebaiknya dipahami sesuai konteks budaya dan tidak dijadikan satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan.

Pada akhirnya, tradisi menghitung hari naas memperlihatkan kekayaan sistem pengetahuan masyarakat Jawa dalam memaknai waktu dan kehidupan. Memahami cara kerjanya bukan hanya membantu mengenal tradisi leluhur, tetapi juga mengingatkan bahwa setiap daerah dapat memiliki aturan petungan yang berbeda.

Editor : Gita Dwi N.
Sumber : pinterest
Weton Jawa Neptu Weton Kalender Jawa Primbon Jawa Hari Naas