Weton Jawa dan Karakter Kepribadian: Cek Watak Berdasarkan Neptu dan Pasaran Kelahiran

D
Penulis: Difa'un Nadhiroh❯

Weton Jawa dan karakter kepribadian menarik untuk diketahui. Simak arti neptu, lima pasaran, dan gambaran watak menurut tradisi Jawa.
Weton Jawa dan karakter kepribadian menarik untuk diketahui. Simak arti neptu, lima pasaran, dan gambaran watak menurut tradisi Jawa.(ILUSTRASI AI)

RADAR PENATARAN - Weton Jawa dan karakter kepribadian menjadi salah satu tradisi budaya yang masih menarik perhatian masyarakat. Dalam perhitungan kalender Jawa, hari kelahiran dan pasaran dipercaya memiliki makna tersendiri untuk menggambarkan watak seseorang. Melalui perhitungan neptu, masyarakat dapat mengenali berbagai karakter, mulai dari kecenderungan suka bepergian, mudah dipengaruhi orang lain, hingga memiliki jiwa kepemimpinan. Namun, penafsiran tersebut merupakan bagian dari tradisi ilmu titen dan tidak dapat dijadikan patokan mutlak untuk menilai kepribadian seseorang.

Cara Menghitung Neptu dalam Weton Jawa

Neptu merupakan nilai angka yang diberikan kepada setiap hari dalam kalender Jawa dan setiap pasaran. Untuk mengetahui jumlah neptu kelahiran, nilai hari dan pasaran dijumlahkan.

Minggu memiliki nilai 5, Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6, dan Sabtu 9. Sementara itu, nilai pasaran terdiri atas Legi 5, Pahing 9, Pon 7, Wage 4, dan Kliwon 8.

Sebagai contoh, seseorang yang lahir pada Selasa Wage memiliki neptu 7. Angka tersebut diperoleh dari nilai Selasa sebesar 3 ditambah Wage sebesar 4. Hasil perhitungan ini kemudian digunakan dalam tradisi penafsiran watak berdasarkan weton.

Karakter Berdasarkan Jumlah Neptu

Setiap jumlah neptu dikaitkan dengan gambaran karakter tertentu. Neptu 7, misalnya, digambarkan memiliki kecenderungan senang bepergian jauh, baik untuk bekerja maupun berlibur. Karakter ini disebut pendeta kang lelaku.

Sementara itu, neptu 8 dikaitkan dengan lakune geni, yakni gambaran seseorang yang cenderung memendam sesuatu hingga akhirnya meluapkan perasaannya. Neptu 9 disebut lakune angin, yang dalam penjelasan tersebut menggambarkan orang yang mudah dipengaruhi dan kurang teguh dalam pendirian.

Orang dengan neptu 10 digambarkan senang memberikan nasihat, tetapi belum tentu mudah menerima masukan dari orang lain. Adapun neptu 11 dikaitkan dengan karakter yang dinilai kurang konsisten dalam mengambil keputusan dan memimpin.

Berbeda dengan gambaran tersebut, neptu 12 dikaitkan dengan sifat mengalah dan menyukai kedamaian. Neptu 13 digambarkan memiliki pesona yang kuat, sedangkan neptu 14 dikaitkan dengan kemampuan memberikan pencerahan serta membantu orang lain mencari jalan keluar dari persoalan.

Pada neptu yang lebih tinggi, karakter yang dijelaskan juga beragam. Neptu 16 digambarkan sebagai sosok yang mudah diarahkan dan memiliki sifat mengayomi sehingga dianggap cocok menjadi pemimpin. Sementara itu, neptu 18 dikaitkan dengan kecenderungan mendominasi dan menginginkan kehendaknya dipenuhi.

Watak Berdasarkan Lima Pasaran Jawa

Selain jumlah neptu, gambaran karakter berdasarkan lima pasaran Jawa, yakni Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.

Pasaran Legi dikaitkan dengan kewibawaan, kemampuan menyesuaikan diri, serta kecenderungan mudah bergaul dengan berbagai kalangan. Pahing digambarkan memiliki keinginan kuat terhadap sesuatu yang dianggap baru atau istimewa, bahkan dalam penafsiran tertentu dikaitkan dengan kecenderungan ingin menguasai.

Sementara itu, Pon dihubungkan dengan kebiasaan menunjukkan harta, kemampuan, atau jasa kepada orang lain. Pasaran Wage digambarkan memiliki pendirian kuat, tetapi juga berpotensi bersikap keras dan memaksakan kehendak.

Adapun Kliwon dikaitkan dengan tutur kata yang halus, pemikiran teratur, serta sikap teliti dalam bertindak. Orang yang memiliki pasaran ini juga digambarkan tidak banyak bicara, tetapi mampu menyampaikan pendapat dengan bahasa yang mudah dipahami.

Weton Bukan Patokan Mutlak Kepribadian

Weton dan watak tersebut hanya berdasarkan ilmu titen, yakni pengetahuan tradisional yang berkembang melalui pengamatan dan pengalaman. Karena itu, masyarakat tidak seharusnya menjadikan perhitungan weton sebagai satu-satunya dasar untuk menilai diri sendiri maupun orang lain.

Kepribadian seseorang juga dipengaruhi oleh lingkungan, pengalaman hidup, pendidikan, serta berbagai faktor lainnya. Dengan demikian, pembahasan weton Jawa dapat dipahami sebagai bagian dari kekayaan tradisi budaya, bukan sebagai kepastian ilmiah mengenai karakter seseorang.

Editor : Difa'un Nadhiroh
Sumber : diolah dari berbagai sumber

Artikel Terkait

Cara Menghitung Hari Naas Menurut Primbon Jawa, Ternyata Tidak Bisa Sembarangan

Cara Menghitung Hari Naas Menurut Primbon Jawa, Ternyata Tidak Bisa Sembarangan

Cara menghitung hari naas menurut Primbon Jawa menggunakan neptu weton dan aturan petungan yang berbeda di setiap daerah.

Hari Naas dalam Primbon Jawa Ternyata Punya Banyak Perhitungan, Ini Penjelasannya

Hari Naas dalam Primbon Jawa Ternyata Punya Banyak Perhitungan, Ini Penjelasannya

Hari naas dalam Primbon Jawa memiliki beragam metode perhitungan. Kenali weton, neptu, dan tradisi petungan Jawa.

Cara Menghitung Hari Naas Menurut Primbon Jawa, Kenali Neptu dan Maknanya

Cara Menghitung Hari Naas Menurut Primbon Jawa, Kenali Neptu dan Maknanya

Cara menghitung hari naas menurut Primbon Jawa menggunakan neptu weton. Simak tabel angka dan langkah perhitungannya.

Berita Terkini

Populer