Candi Muara Takus Simpan Bangunan Lain yang Terpendam, Jaraknya 100 Meter dari Kompleks Utama

RADAR PENATARAN - Candi Muara Takus di Kabupaten Kampar, Riau, diduga memiliki struktur bangunan lain yang belum terungkap di luar kompleks utama. Indikasi tersebut ditemukan sekitar 100 meter dari pagar kawasan percandian dan menjadi perhatian Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat melakukan peninjauan pada 18 Oktober 2026.
Temuan ini membuka kemungkinan bahwa kawasan Candi Muara Takus pada masa lalu memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan area yang selama ini dikenal masyarakat. Pemerintah berencana melakukan penelitian lanjutan melalui ekskavasi untuk memastikan keberadaan struktur tersebut sekaligus mengetahui batas kawasan peninggalan sejarah itu.
Baca Juga: Candi Gedong Songo Bandungan, Peninggalan Mataram Kuno yang Menyimpan Keunikan dan Misteri Sejarah
Ada Indikasi Candi Lain di Luar Pagar Utama
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengungkapkan adanya indikasi struktur percandian lain di luar pagar utama Candi Muara Takus. Lokasi yang diduga menyimpan peninggalan tersebut berada sekitar 100 meter dari kompleks utama.
Berdasarkan informasi yang disampaikan pemerintah, area tersebut saat ini berupa kebun. Struktur bangunan yang diduga berada di bawah permukaan tanah belum sepenuhnya terungkap sehingga membutuhkan penelitian arkeologi lebih lanjut.
Temuan ini menjadi penting karena kompleks Candi Muara Takus yang selama ini dikenal terdiri atas empat bangunan utama. Keberadaan struktur tambahan berpotensi memberikan gambaran baru mengenai luas kawasan dan aktivitas masyarakat pada masa lampau.
Namun, keberadaan bangunan tersebut masih berupa indikasi berdasarkan penelitian sebelumnya. Pemerintah belum menyampaikan hasil ekskavasi terbaru yang memastikan bentuk, fungsi, maupun usia struktur yang diduga terpendam tersebut.
Baca Juga: Candi Gedong Songo Semarang, Kompleks Candi di Lereng Gunung yang Punya Pemandangan Memukau
Ekskavasi Disiapkan untuk Mengungkap Struktur Terpendam
Kementerian Kebudayaan berencana menindaklanjuti indikasi tersebut dengan melakukan ekskavasi atau penggalian arkeologi. Langkah ini diperlukan untuk mengetahui apakah benar terdapat struktur candi lain di lokasi yang dimaksud.
Ekskavasi dilakukan dengan metode penelitian yang memperhatikan kondisi tanah dan keberadaan benda peninggalan sejarah. Prosesnya tidak bisa dilakukan sembarangan karena setiap lapisan tanah berpotensi menyimpan informasi mengenai aktivitas manusia pada masa lalu.
Melalui penelitian tersebut, tim arkeologi juga dapat memetakan persebaran struktur bangunan di sekitar kompleks utama. Hasilnya akan menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan batas kawasan yang perlu dilindungi.
Jika ditemukan struktur tambahan, informasi tersebut dapat memperkaya pemahaman mengenai perkembangan kompleks Candi Muara Takus. Penelitian juga berpotensi memberikan petunjuk baru mengenai fungsi kawasan tersebut dalam sejarah perkembangan agama Buddha di Sumatra.



